Senin, 09 Maret 2009
PERILAKU PENGGUNA JALAN = BUDAYA SETEMPAT
Sepanjang dimungkinkan setiap pengguna jalan boleh memilih patuh atau sebaliknya justru melawan dan tidak patuh kepada tata aturan lalu lintas jalan raya, satu-satunya pertimbangan adalah apakah berani atau tidak seseorang menanggung akibatnya. Anda boleh saja memacu kendaraan sewajarnya dengan mengutamakan memilih bahu jalan sebelah kiri demi keteraturan. Tetapi tidak tertutup kemungkinan anda berkendara dengan kecepatan tinggi sembari menunjukkan kebolehan atraksi zigzag dan lain sebagainya. Hak setiap orang untuk memutuskan kapan akan menyalakan klakson, mendahului atau tidak, bahkan anda dapat memilih memakai helmet pelindung kepala atau tidak. Pejalan kaki bisa saja menyeberang secara sembarangan sebaliknya orang bisa memilih tangga penyeberangan atau zebra cross. Keberanian dan nyali seseorang bisa jadi menentukan pilihan dan perilaku pengguna jalan, lebih dari itu ada sesuatu yang lebih bernilai yaitu tatanilai yang dianut serta kebenaran yang diyakini. Yang kita sebut terakhir ini adalah wujud dari kebiasaan bahkan budaya seseorang yang tidak kurang pentingnya menentukan perilaku seseorang dalam berlalu lintas. Tingkah polah pengguna jalan merupakan ekspresi jiwa suatu kaum yang sesungguhnya. Dengan demikian tidak berkelebihan apabila dikatakan: disiplin dan tertib lalu lintas pengguna jalan disuatu tempat adalah cermin tingkat keberadaban bangsa itu.
Label:
BUDAYA BANGSA,
JALANAN,
LALULINTAS,
PERILAKU,
TERTIB
Langganan:
Postingan (Atom)
